Solusi Ideal Untuk Mengatasi Rasa Berat Dalam Beribadah

Kita semua pasti pernah merasakan atau mengetahui bahwa hati manusia tidak selamanya setabil. Kadang-kadang dia senang dan kadang-kadang dia sedih, kadang kalanya semangat dan kadang kalanya merasa malas dan berat untuk beraktivitas. Jadi begitu jugalah kondisi hati kaum muslimin dalam beribadah. Tentunya, rasa malas atau berat beribadah tidak layak terjadi pada ibadah wajib, karena itu wajib bagi kita untuk melaksanakan dengan penuh Ridha dan ikhlas. Namun dalam ibadah sunnah dan amalan sholeh lainnya adalah kondisi ini biasa menimpa kita, dan itu sebenarnya lumrah. Satu hari ada dua sahabat datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, salah seorang dari mereka mengadu dan, berkata:

Ya Rasulullah, sesungguhnya (aku merasa) syari’at Islam begitu banyak bagiku. Perintahkanlah padaku suatu amalan yang mudah untuk kuamalkan. ” Maka beliau bersabda:  “Hendaklah lisanmu senantiasa basah karena berdzikir (mengingat) Allah.”

Di tengah kesibukan sehari-hari, tugas yang menumpuk dan tanggung jawab yang semakin berat dan kadang kita merasa tidak memiliki cukup waktu untuk memaksimalkan ibadah dan amal Sholeh. Sementara kita menginginkan solusi yang sangat ideal untuk Bersinergi antara keinginan untuk mendapatkan pahala yang berlipat ganda dengan amalan sederhana dengan kewajiban menyelesaikan semua tugas dan tanggung jawab yang tidak ada hentinya.

Inilah ada beberapa cara ideal untuk mengatasi rasa berat beribadah sebagai berikut:

1. Manejemen Niat

Banyak sekali perbuatan dan amalan yang kita lakukan setiap harinya berlalu dengan begitu saja, mungkin tanpa bernilai ibadah. Padahal dengan menata niat secara baik, kita bisa mendapatkan pahala yang sangat berlimpah, apalagi kita sendiri tidak tahu amalan mana yang akan membawa kita ke surga nantinya. Abdullah bin Mubarak rahimahullah berkata:

“Betapa banyak amal kecil menjadi besar karena niat, dan betapa banyak amal besar menjadi kecil karena niat”.

Diantara ungkapan yang popular di kalangan thullabul Ilmi adalah niat dan bisnisnya ulama. Maksudnya adalah bahawa para ulama menjadikan niat sebagai modal utama untuk meraih keuntungan Ukhrawi. Mereka sentiasa berusaha menghadirkan niat ikhlas serta mengharap Ridho dan ganjaran hanya dari Allah SWT dalam semua aktivitas yang dilakukan nya. Dengan niat ikhlas mereka mengubah amalan yang pada dasarnya bukan ibadah menjadi bernilai Ibadah.

Ulama sentiasa menghadirkan niat ikhlas dalam setiap amal wajib maupun Sunnah yang pada dasarnya bukan merupakan ibadah, seperti menyediakan nafkah kepada anak istri , untuk membayar hutang, dan lain-lain. Mereka menghadirkan niat ikhlas mengharap ridho Allah SWT saat meninggalkan perbuatan haram. Mereka juga melakukan perkara mubah seperti tidur, makan, dan lain-lain dengan niat ikhlas dan mengharapkan Ridho Allah SWT semata.

Zubaid Al-Yami rahimahullah berkata:

“Sesungguhnya aku gemar berniat di segala sesuatu, sampai saat makan dan minum.” Dia juga berkata:

“Bertujuan di segala sesuatu yang engkau inginkan kebaikan, sampai (jika) kamu keluar ke tempat sampah”.

Semua ini adalah implementasi dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. ”

Jadi mari kita untuk membiasakan diri untuk menata niat dengan baik, dengan selalu berusaha untuk menghadirkan niat yang ikhlas sebelum melakukan suatu aktivitas baik apa saja.

2. Amalan Sederhana Pahala yang Luar Biasa

Jika rajin membaca ayat-ayat Allah dan hadist-hadist shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kita akan menemukan banyak amalan yang kita rasakan sangat sederhana, namun Allah menjanjikan imbalan yang luar biasa. Kita hanya perlu untuk lebih rajin lagi membaca kitab kitab yang merangkum amalan tersebut, kemudian kita harus membiasakan diri untuk mengamalkannya secara konsisten. Berikut ada beberapa contoh dari amalan tersebut :

1. Berzikir, Mengingat Allah Pada Setiap Saat

Zikir, merupakan termasuk ibadah yang paling agung setelah ibadah fardhu, tetapi ibadah ini juga sangat mudah untuk diamalkan, yang bermodal dengan gerakan lisan dengan niat yang ikhlas dalam hati. Oleh itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehati seorang sahabat yang mengadu kepadanya – sesuai Hadist yang pertama disebutkan di atas untuk senantiasa berdzikir kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman yang artinya:

“Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar (keutamaannya).” (QS. Al-Ankabut: 45)

2. Wudhu

berwudhu, merupakan sesuatu perbuatan yang sangat mudah dilakukan, tetapi memiliki pahala yang sangat besar. mulai dari berwudhu dengan sempurna, berdoa setelahnya, hingga menutupnya dengan shalat dua raka’at. Rasulullah saw bersabda :

“Barangsiapa berwudhu, lalu menyempurnakan wudhunya, niscaya kesalahan kesalahannya akan keluar dari badannya hingga keluar dari bawah kuku kukunya”.

Tidaklah ada seorang diantara kalian yang berwudhu, lalu menyempurnakan wudhunya, kemudian dia membaca doa Asyhadu anlaa ilaaha illallaah wa anna Muhammadan ‘abdullah warasuluh’ melainkan akan dikabulkan baginya delapan pintu surga, dia akan dipersilahkan masuk melalui pintu manapun yang dikehendakinya”.

“Tidaklah seorang Muslim berwudhu dengan sebaik baiknya , kemudian mengerjakan shalat dua raka’at dengan menghadapkan hati dan wajahnya (kepada Allah swt), melainkan ia berhak memperoleh surga’.

3. Membaca Surat Al-Ikhlas

Rasulullah saw bersabda :

“Apakah seseorang dari kalian tidak mampu membaca sepertiga Al-Quran dalam satu malam (saja)?” Hal itu membuat mereka (para sahabat) merasa berat, (sehingga) mereka pun berkata :

“Siapa diantara kami yang mampu melakukan hal itu, wahai Rasulullah?” Lalu Rasulullah bersabda : “Allahul Wahidush Shamad (Surat al-Ikhlas), adalah sepertiga Al-Quran.”

Dan masih banyak lagi amal ibadah lainnya yang mudah untuk dilakukan, namun dapat membawa pahala yang begitu sangat besar bagi kita semua. Semoga Allah swt menganugrahi kita semangat yang tak pernah padam dalam melakukan ibadah kepadanya, serta memberikan kita taufik dan hidayah untuk tetap meluruskan niat dalam segala perkataan atau perbuatan, kapan pun dan di manapun kita berada.

Tinggalkan komentar