10 Adab dalam menyampaikan nasihat menurut islam

Agama Islam adalah agama nasihat. Semua isi agama Islam adalah nasihat. Dan setiap kita semua dalam agama ini, akan sentiasa menasehati dan dinasehati.

“Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin yang lainnya. Apabila melihat Aib padanya, dia segera memperbaikinya “(HR. Bukhari)

Walau bagaimanapun, banyak orang yang sulit menerima nasihat, kerana mungkin begitu seringnya nasihat datang kepadanya tanpa adab. Tetapi Islam mengajarkan etika dalam menyampaikan nasihat terhadap saudara saudara muslim kita, bagaimanapun amalan memiliki adabnya masing masing.

Sebagai hadist dari Tamim Ad Dariy radhiallahu’anhu, Shallallahu’alaihi Nabi bersabda:

“Agama adalah nasihat. “Para sahabat bertanya:” untuk Siapa? “. Beliau menjawab: “Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan umat Islam Seluruhnya” (HR Muslim).

Bagaimanapun memberi sebuah nasihat itu tidak boleh sewenang-wenang atau sembarangan. Ada adab adab yang perlu diperhatikan oleh kita ketika kita menyampaikan sebuah nasihat kepada orang lain. Berikut adalah beberapa cara yang perlu diperhatikan ketika memberi nasihat:

1. Berniat untuk meningkatkan atau memperbaiki diri, bukan untuk pamer diri

“Sesungguhnya, setiap amal itu tergantung pada niatnya dan sesungguhnya setiap orang itu hanya akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya. “(HR. Bukhari Muslim).

Dan bahkan sangat jauh berbeda jika seseorang memberikan saran atau nasihat dengan niat untuk memperbaiki saudara saudara kita, atau dengan maksud untuk “menunjukkan diri” sebagai yang lebih benar, lebih saleh dan lebih jauh dalam ilmu atau pengetahuan. Jangan pernah memberikan saran atau nasihat pada kondisi merasa lebih baik dari saudara kita, karena akan termasuk kesombongan diri, tentu saja, tidak ada manusia yang nyaman jika di beri saran atau nasihat yang diberikan dalam posisi yang salah ataupun benar. Berilah nasihat untuk memposisikan diri juga untuk sama sama perlu belajar lagi, dan nasihat yang kita berikan Akan lebih efektif.

2. Memberi nasihat cukup empat mata saja

Banyak orang keliru dalam memberikan Nasihat, yakni melakukanya di depan orang lain, tetapi Nasihat terbaik adalah sebenarnya cukup hanya empat mata saja, tidak diketahui oleh orang lain, bahkan jika kalau perlu harus diberitahukan secara rahasia, dalam waktu dan lokasinya:

Imam Syafi’i dalam syairNya mrnyatakan:
Berilah kepadaku Nasihat ketika aku sendirian,
dan jauhilah memberikan Nasihat di tengah tengah keramaian
karena Nasihat di tengah tengah manusia itu termasuk satu jenis pelecehan yang aku tidak suka mendengarkannya
Jika engkau menyelisihi dan menolak saranku maka janganlah engkau marah jika kata katamu tidak aku turuti.

3. Sampaikan Nasihat dengan kata-kata yang lembut dan cara yang baik

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah berkata yang baik atau diam. “(HR. Bukhari dan Muslim).

Menjerit, mengutuk, merendahkan, atau memaksa, bukanlah termasuk nasihat walaupun bertujuan untuk kebaikan. Bahkan ketika Allah memrintahkan Nabi Musa dan Harun untuk menasehati Fir’aun yang sombong dan melakukan kerusakan yang besar sekalipun, ia meminta kepada keduanya untuk berkata lembut.

“Sesungguhnya Allah mencintai lemah lembut dalam segala perkara. “(HR. Bukhari, Muslim)

4. Nasehati diri sendiri terlebih dahulu sebelum orang lain

Alangkah baiknya kita memastikan diri mendapatkan hikmah dan manfaat dari nasihat yang kita berikan kepada orang lain, jangan sampai kita menasehati orang namun sendirinya masih berbuat buruk dan tidak menjalankan apa yang kita Nasehati:

“Wahai orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa apa yang tidak kamu kerjakan. ” (Qs. ash-Shaff: 2 : 3)

5. Nasihatilah dengan ilmu pengetahuan, tidak dengan nafsu

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kami ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggung jawabannya. ” (Q.s. al-Israa ’36).

Tidak sedikit orang yang menasihati, tanpa ilmu, dan tanpaknya dia hanya mengira ngira dan berperasangka saja. Sebisa mungkin, pastikan kita memberi Nasihat sesuai dengan ilmu yang berkualitas dan mempuni dan pernah kita pelajari dan dapat dipertanggung jawabkan.

6. Tetap sabar dalam memberi nasihat, walaupun nasihat kita tidak dituruti

“Dan tetaplah memberi peringatan, kerana sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. “(QS. adz Dzaariyaat 55)

Tidak ada alasan atau sebab untuk berhenti memberi nasihat, walaupun nasihat yang kita berikan tidak didengarkan atau diacuhkan saja, tetapi sesunguhnya kita sedang memberikan hak saudara saudara kita untuk dinasihati. Maka sesungguhnya kita janganlah sampai bosan memberi nasihat dan peringatan, karena batu yang sangat keras pun bisa berlubang jika terus di tetesi air, begitu juga manusia sekeras apapun dia bila kita nasehati terus perlahan perlahan hatinya akan luluh juga.

7. Mengharapkan Ridha Allah swt

Seseorang yang ingin memberi nasihat hendaklah meniatkan nasihatnya semata semata untuk mendapatkan keRidhaan Allah swt. Kerana hanya dengan tujuan inilah dia berhak atas pahala dan ganjaran Allah SWT, sebagai tambahan kepada hak untuk menerima nasihat. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya, setiap amal itu bergantung kepada niatnya, dan sesunguhnya setiap orang itu hanya akan mendapatkan yang sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barangsiapa yang berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya (dinilai) kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang hendak diraihnya atau karena perempuan yang hendak dinikahinya, maka (hakikat ) hijrahnya itu hanyalah kepada apa yang menjadi tujuan hijrahnya. ” (HR. Bukhari dan Muslim).

8. Mencari waktu yang tepat

Tidak Semua orang yang hendak kita nasehati itu siap untuk menerima nasihat. Kadang-kadang jiwanya sedang tertekan, marah, sedih, atau hal yang menjadikan ia menolak nasihat itu. Ibnu Mas’ud berkata:

“Sesunguhnya kadang-kadang hati bersemangat dan mudah menerima, dan adakalanya hati lesu dan mudah menolak. Maka ajaklah hati saat dia bersemangat dan mudah menerima dan tinggalkanlah apabila dia malas dan mudah menolak. “(Al Adab Asy Syar’iyyah Ibnu Muflih).

9. Tidak memaksakan kehendak

Salah satu kewajipan seorang yang beriman adalah menasehati saudaranya ketika ia melakukan kesalahan. Tetapi ia tidak wajib untuk memaksa beliau untuk mengikuti nasihat kita. Oleh itu, bukanlah bagiannya.

10. Menggunakan perkataan yang baik

Karena dengan perkataan yang baik kepada orang lain dan lingkungan di mana kita berada, akan membuat segala sesuatu menjadi baik.
Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Tinggalkan komentar